Persalinan Aman Bebas Nyeri

Oleh Henky Mohammad Masteryanto, dr., Sp.OG

Minggu, 25 Mei 2025

Sebagian besar wanita pasti berharap dapat menghadapi proses persalinan yang normal dan nyaman. Operasi Sesar adalah jalan dan pilihan terakhir bagi ibu hamil dalam menghadapi proses kelahiran sang buah hati. Dalam data yang dipublikasikan oleh organisasi Kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) angka persalinan di dunia semakin meningkat, dari 7% pada tahun 1990, sampai 21% pada tahun 2021, bahkan di AS dilaporkan angka operasi sesar mencapai 32% per tahunnya. Di Indonesia sendiri menurut RISKESDAS tahun 2018, jumlah persalinan dengan metode operasi sesar pada perempuan usia 10-54 tahun mencapai 17,6% dari keseluruhan jumlah persalinan.

Persalinan melalui operasi sesar tidak sembarang dapat dilakukan, karena risiko dan komplikasi yang dapat muncul akibat persalinan ini relatif cukup besar dibandingkan dengan persalinan normal. Seorang dokter kandungan akan mengambil keputusan yang tepat untuk menentukan kapan seorang ibu hamil harus dilakukan persalinan dengan operasi sesar. Ada indikasi yang mengharuskan seorang ibu hamil menjalani proses persalinan dengan operasi sesar, yaitu abnormalitas posisi janin (posisi janin sungsang, melintang), persalinan lama atau kemajuan persalinan yang macet akibat panggul ibu sempit atau janin yang besar, dikenal juga dengan cephalo-pelvic disproportion (CPD), plasenta yang menutupi jalan lahir (plasenta previa), gawat janin (fetal distress), riwayat persalinan sebelumnya dengan operasi sesar, dll.

 

           Metode ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Section/Surgery) pada awalnya dikembangkan dari metode ERAS (Enhanced Recovery After Surgery) yaitu prosedur tindakan operasi bedah usus besar yang dilakukan oleh dokter bedah. Metode ERAS ini mulai dikembangkan dalam bidang kebidanan, yang kemudian disebut sebagai ERACS di Eropa sejak tahun 2012, dan di AS pada 2018, sedangkan di Indonesia mulai diaplikasikan pada tahun 2020.

          Mendengar istilah ERACS, akhir-akhir ini menjadi suatu hal yang banyak dibicarakan. Istilah ini mulai dikenal oleh masyarakat di tanah air sekitar akhir tahun 2021, di mana saat itu muncul suatu postingan video oleh seorang selebritis ibu kota di salah satu media sosial yang sangat mencuri perhatian para netizen. Dalam unggahan video tersebut diceritakan bahwa selebritis tersebut 6 jam paska operasi sudah bisa berdiri, 12 jam paska operasi sesar sudah bisa berjalan dan 2 hari paska operasi sudah berjoget. Hal ini tentunya membuat takjub para wanita di jagad media sosial.  Sebelum video tersebut beredar, asumsi yang ada di masyarakat setelah operasi sesar pasti nyeri luar biasa, jangankan 12 jam sudah berjalan, bahkan beberapa ibu mengeluh baru bisa mulai berjalan setelah 3 hari. Benar-benar perjuangan yang sangat berat bagi ibu yang bersalin melalui operasi sesar. Namun sekarang dengan adanya metode ERACS, perjuangan dan penderitaan para ibu yang bersalin melalui operasi sesar dapat diminimalisir.

         Tujuan utama dari metode ERACS ini adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan ibu hamil (maternal), khususnya dalam tindakan persalinan dengan operasi sesar, yaitu meminimalisir nyeri dan mual muntah paska operasi, optimalisasi mobilisasi paska operasi, dan diharapkan penyembuhan dan perawatan di rumah sakit menjadi lebih singkat. Kunci keberhasilan metode ini tidak hanya bergantung dari satu orang dokter saja, ada berbagai pihak yang berperan (multidisiplin), antara lain dokter kandungan, dokter anestesi, dokter anak, bidan, perawat, staf gizi, dan staf farmasi di sebuah rumah sakit.

         Pada pelaksanaan metode ERACS ini berdasarkan konsensus dokter anastesi dan dokter kandungan, ada 3 fase penting yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan baik, yaitu fase sebelum operasi (pre-operative), fase pada saat operasi (intra-operative), dan fase paska operasi (post-operative).

1.        Fase Sebelum operasi (pre-operative).

a.       Penapisan (screening) dan edukasi pasien.

Fase ini mulai dilakukan saat pasien bertemu dengan dokter kandungan dan dokter anestesi di rawat jalan (poliklinik), disini ditentukan pasien mana yang akan dapat dilakukan operasi sesar dengan metode ERACS, dan dipastikan tidak ada kontraindikasi pada pasien. Kontraindikasi antara lain: kehamilan dengan plasenta akreta, dan kehamilan dengan penyakit penyerta yang berat (hipertensi, gangguan jantung, penyakit autoimun, penyakit gangguan darah, dll). Selain itu dilakukan optimalisasi kadar hemoglobin (Hb), apabila ibu hamil mempunyai kadar Hb yang rendah. Karena ternyata, dalam suatu studi disebutkan risiko perdarahan paska persalinan akan semakin meningkat 3 kali lipat pada ibu hamil yang memiliki kadar Hb yang rendah (<10 g/dL), dibandingkan dengan kadar Hb yang lebih tinggi (Hb>10g/dL). Pada fase ini, pasien juga akan mendapatkan informasi dan edukasi tentang proses persiapan tindakan operasi, rencana prosedur pembiusan, edukasi menyusui, pola asupan nutrisi dan motivasi mobilisasi dini paska operasi. Dengan demikian Fase ini memegang peran yang sangat besar dalam mencapai keberhasilan metode ERACS.

b.      Penentuan puasa.

Pada metode ini puasa yang harus dijalani pasien menjadi relatif lebih singkat, bahkan bisa dikatakan tanpa puasa, karena pasien mulai puasa makan padat 6-8 jam sebelum operasi, dan 2 jam sebelum operasi pasien diberikan minuman berkalori, dapat berupa air gula atau jus apel saring, agar pasien tidak terlalu lemah untuk segera melakukan mobilisasi aktif paska operasi.

 

2.        Fase Saat operasi (intra-operative).

a.       Prosedur pembiusan.

Dalam metode ini digunakan prosedur pembiusan spinal atau epidural, sehingga pasien masih tetap dalam kondisi sadar selama proses operasi. Dokter anestesi akan memberikan kombinasi obat-obatan anti nyeri dan anti mual muntah yang optimal selama proses operasi hingga paska operasi, sehingga pasien akan sangat nyaman karena rasa yeri yang minimal dan mual yang minimal pula.

b.      Suhu tubuh dan ruangan operasi dijaga dalam batas yang optimal, tidak terlalu dingin. Pasien juga akan diberikan selimut penghangat selama operasi.

c.       Pemotongan tali pusat bayi dilakukan dengan interval waktu 30-60 detik setelah bayi lahir (delayed cord clamping). Prosedur ini dilakukan jika bayi bugar yang tidak memerlukan tindakan resusitasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan simpanan zat besi dalam darah bayi sehingga dapat mengoptimalkan tumbuh kembang bayi.

d.      Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dapat dilakukan sesegera mungkin setelah bayi lahir dengan cara skin-to-skin contact, jika kondisi bayi baik. IMD bermanfaat untuk meningkatkan bonding antara ibu dan bayi, sehingga meningkatkan hormon oksitosin ibu yang dapat membuat ibu menjadi lebih nyaman dan bahagia, serta dapat memperbaiki kontraksi rahim dan menurunkan risiko perdarahan paska persalinan.

3.        Fase Paska operasi (post-operative).

a.       Pasien dapat mulai minum air 1 jam paska operasi, dan dapat mulai makan makanan biasa 4 jam paska operasi.

b.      Mobilisasi aktif lebih dini, yaitu dalam 2 jam paska operasi sudah mulai duduk dan dalam 8 jam sudah dapat berjalan. Kateter urine dapat mulai dilepas 6-12 jam paska operasi. Jika pasien dapat melakukan mobilisasi aktif lebih dini diharapkan pasien memerlukan waktu yang lebih singkat untuk pemulihan dan penyembuhan, sehingga dapat dirawat di rumah sakit lebih singkat pula, tentunya dengan memperhatikan waktu istirahat dan menyusui dengan baik.

c.       Pemberian kombinasi obat-obatan antinyeri untuk meminimalkan nyeri paska operasi. 

        Untuk memaksimalkan keberhasilan metode ERACS, beberapa saran untuk ibu hamil dalam mempersiapkan diri sebelum menjalani metode ini, antara lain:

1.      Bersama dengan pasangan, banyak mencari informasi tentang persalinan Sesar dengan metode ERACS, dan memilih rumah sakit yang melayani metode ERACS,

2.      Berdiskusi dengan dokter kandungan yang merawat mengenai kondisi kehamilan dan rencana tindakan persalinan yang terbaik bagi kehamilannya, sampaikan semua kondisi yang dialami oleh ibu selama hamil, terutama jika ada penyakit penyerta,

3.      Menjaga asupan nutrisi dan konsumsi vitamin dengan teratur selama kehamilan, agar kondisi fisik ibu dan janin selalu sehat, serta kadar hemoglobin tetap optimal,

4.      Selalu bahagia bersama pasangan dalam menjalani kehamilan dan menanti kelahiran sang buah hati.

       Persalinan SC metode ERACS di Rumah Sakit Manyar Medical Centre Surabaya sendiri tersedia beberapa paket persalinan mulai dari kelas 1, vip dan vvip, paket sudah termasuk kamar rawat inap selama 2 hari dan obat selama perawatan di rumah sakit dan di rumah.

        Informasi lebih lanjut atau ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah RS Manyar Medical Centre, dapat menghubungi: Customer Relation di 0812 3452 3446, website www.rsmmcsby.co.id atau datang langsung ke RS Manyar Medical Centre di Jl Raya Manyar No 9, Surabaya.

Artikel Terkait