Galau, Sebuah Sinyal Pertolongan!

Oleh Windy Tiandini,dr,Sp.KJ

Kamis, 05 Juni 2025

Pernahkah Sobat MMC, merasa hati tidak tenang? Memikirkan banyak hal terus-menerus hingga terasa lelah bahkan sulit merasakan kesenangan hingga malas untuk keluar rumah, atau merasa sudah tidur cukup banyak tapi saat bangun di pagi hari badan terasa tidak segar, dada sering berdebar-debar hingga merasa nyeri dan sulit untuk bernafas lega, perut sering terasa perih, mual, hingga muntah dan harus beberapa kali datang ke IGD untuk mendapatkan penanganan.

Beberapa tanda tersebut bisa jadi sebuah sinyal bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja! Galau, yang dulu hanya diartikan sebagai sebuah perasaan sedih semata, menjadi salah satu kunci untuk melihat kondisi kesehatan mental kita. Perkembangan teknologi dan jaman, tanpa disadari turut merubah cara berpikir dan perilaku.

Kesehatan mental yang selama ini sering disepelekan karena dianggap dapat disembuhkan dengan rutin beribadah dan pergi liburan ternyata menjadi isu global saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan tekhnologi, topik tentang kesehatan mental semakin meningkat. Kesehatan mental tidak lagi terbatas pada solusi cepat terhadap dinamika kehidupan, tetapi sudah mencakup bagian dari kehidupan sehari-hari, yang memengaruhi segala hal, termasuk keputusan-keputusan dalam kehidupan. Kesehatan mental bukan hanya tentang perubahan suasana hati atau stres, kesehatan mental merupakan dasar dari cara kita berpikir, merasakan, dan berhubungan dengan orang lain. Kesehatan mental membentuk cara kita menghadapi tantangan sehari-hari. Bila kesehatan mental terganggu dalam skala besar, hal tersebut akan memengaruhi fungsi sehari-hari, hubungan dengan keluarga, komunitas, fungsi dalam pekerjaan dan/atau pendidikan serta kesehatan fisik.

 

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan masalah kesehatan mental:

1.      Tekanan Sosial dan Media

Seiring berkembangnya tekhnologi, kemudahan dalam mencari dan mendapatkan informasi menjadi lebih mudah. Hak tersebut ternyata membentuk ekspektasi tinggi dan menyebabkan timbulnya perbandingan sosial di media yang dapat menurunkan rasa percaya diri, membandingkan kehidupan, dan membuat kesenjangan kehidupan. Paparan standar keberhasilan atau kebahagiaan di media yang cenderung kurang realistis dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi.

2.      Lingkungan Keluarga

Peran keluarga dan pola asuh yang terlalu protektif, otoriter, atau bahkan memanjakan dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental. Pola asuh yang tidak konsisten dalam membesarkan anak, ketidakhadiran salah satu figur orang tua atau konflik keluarga yang terjadi terus menerus sehingga anak tumbuh dalam kebingungan, tidak menndapatkan lingkungan yang aman dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan mental.

3.      Bullying dan Kekerasan

Bullying atau perundungan yang terjadi baik secara langsung atau dari (cyberbullying) dapat menimbulkan masalah relasi sosial, menurunnya kepercayaan diri, trauma hingga ketidakstabilan emosional yang dapat berakibat fatal dan berkepanjangan.

4.      Kesehatan Fisik dan Gaya Hidup

Kesehatan mental sangat erat kaitannya dengan kesehatan fisik. Pola makan yang tidak sehat, kurang tidur, kurang olahraga, konsumsi makanan tinggi gula dapa berakibat meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan. Saat mengalami stres makan secara otomatis hormon-hormon stres di dalam tubuh akan teraktivasi, hal tersebut memengaruhi kesejateraan sel-sel tubuh. Sehingga, individu yang mengalami masalah kesehatan jiwa cenderung mengeluhkan gejala-gejala fisik dibanding suasana hatinya sendiri. Perlu diwaspadai bila keluhan fisik terjadi terus menerus meski sudah mencari penanganan.

5.      Tekanan Akademik

Beban tugas di sekolah atau tuntutan untuk terus berprestasi dan mendapatkan nilai tinggi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental seseorang, terutama di kalangan remaja. Belajar yang seharusnya menjadi sebuah proses pembelajaran dalam kehidupan berubah menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi mereka.

6.      Masalah Ekonomi

Sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan tetap dan cukup, sementara terjadi peningkatan kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu sumber stres bagi masyarakat.  

7.      Hustle Culture

Perubahan yang serba cepat pada dunia digital menuntut pekerjaan agar dapat diselesaikan dengan cepat. Tekhnnologi modern diharapkan mampu memudahkan pekerjaan manusia, akan tetapi dampak negatif dari kemajuan tekhnologi tersebut adalah bertambahnya pekerjaan, membuat pola bekerja yang serba cepat hingga instan, menimbulkan perasaan takut tertinggal, gagal, merasa insecure terhadap pencapaian kerja orang lain. Sehingga, kita terjebak pada hustle culture = workaholism  yang sayangnya berkonnotasi negatif dan memberi dampak pada kesehatan mental kita.

8.      Kesepian

Salah satu penyebab terganggunya kesehatan mental adalah kesepian. Banyak masyarakat yang terpaksa atau harus hidup jauh dari keluarga dikarenakan pekerjaan atau tidak ada lagi anggota keluarga. Dampak dari kesepian ini adalah terputusnya relasi, perasaan terisolir, hingga merasa “dibuang”. Hal ini tentu saja akan menganggu kesehatan mental individu. Kesepian bukan hanya rentan dialami oleh lanjut usia, tetapi dewasa muda juga seringkali mengalami hal tersebut.

 

Jenis dan Gejala Gangguan Kesehatan Mental yang Umum terjadi:

1.      Gangguan Cemas

Gangguan cemas ditandai dengan perasaan tidak tenang, gelisah, seolah-olah hal buruk akan terjadi, dapat disertai dengan dada berdebar, nafas terasa sesak, keluhan pada pencernaan, buang air kecil lebih sering, hingga sensasi seperti mau jatuh atau bahkan pingsan. Gangguan kecemasan seringkali membuat individu datang ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera karena keluhan-keluhan fisik yang dirasakan.

2.      Depresi

Gangguan mood dan suasana perasaan yang dominan sedih, murung, dapat disertai penurunan nafsu makan, rasa lelah yang berkepanjangan, gangguan pola tidur, hingga penurunan konsentrasi dapat menjadi salah satu tanda terjadinya depresi. Gejala depresi juga dapat mengakibatkan seseorang merasa mudah marah, menjadi lebih sensitif atau baper, hingga perilaku impulsif seperti menyakiti diri sendiri.

3.      Bipolar

Gangguan suasana perasaan lainnya adalah Bipolar, seperti namanya bipolar terdiri dari 2 kutub perasaan yang bertolak belakang. Adanya fluktuasi suasana perasaan seperti rasa senang yang berlebihan, diikuti dengan peningkatan energi hingga tidak merasa lelah, munculnya ide-ide di kepala, hingga berbelanja dan atau berdandan berlebihan. Biasanya setelah periode rasa senang tersebut, individu akan mengalami penurunan mood,  rasa malas, hilangnya energi seperti gejala depresi. Gangguan Bipolar cukup sering terjadi namun sering tidak terdeteksi dan hanya dianggap sebagai mood swing semata.

4.      Gangguan Perilaku

Beberapa gangguan perilaku yang berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa adalah penyalahgunaan narkoba, perilaku impulsif yang dapat menyakiti diri sendiri dan orang lain, beberapa gangguan perilaku dapat disertai dengan kesulitan dalam mengekspresikan emosi, seperti ledakan amarah yang tiba-tiba perlu mendapatkan perhatian dan penanganan khusus.

 

Kesehatan mental di Indonesia pada tahun 2025 memasuki fase kritis. Data kementrian kesehatan RI menunjukkan 1 dari 5 orang di Indonesia mengalami gejala gangguan kesehatan mental, mulai dari gangguan kecemasan hingga depresi. Pandemi COVID-19 turut berperan dalam lonjakan kasus gangguan kesehatan mental. Walau pandemi sudah mereda namun trauma akan kehilangan anggota atau kerabat dekat, kesepian akibat pembatasan sosial, hingga kembali bekerja secara daring memerlukan adaptasi yang cukup cepat. Hal tersebut ternyata memberi dampak dalam meningkatkan angka kejadian burnout di tempat kerja dan ga gangguan kecemasan.

Meski kesadaran akan kesehatan mental meningkat, tapi stigma negatif masih terus melekat. Sehingga, membuat kita seakan enggan untuk memeriksakan diri ke Psikiater karena takut dicap “Gila”. Hal tersebut tentu memberi dampak buruk hingga kerugian bukan hanya finansial semata, karena bila gejala-gejala gangguan mental tidak ditangani maka akan menganggu relasi, fungsi, hingga pengambilan keputusan individu. Dampak negatif bukan hanya dirasakan oleh individu tersebut, tapi oleh keluarga hingga organisasi di tempat kerja.

Kesehatan mental menjadi salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan. Memiliki kesehatan mental yang naik menyiratkan kemampuan untuk terhubung, berfungsi, mengatasi, dan berkembang dalam beberapa aspek kehidupan. Beban pada gangguan mental mencakup keseluruhan perjalanan hidup, mulai dari gangguan perkembangan dan perilaku pada masa kanak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut.

Kesehatan mental yang baik adalah saat individu mampu untuk berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial. Mampu untuk memanajemen stres dengan baik, menyadari potensi diri, bekerja secara produktif, dan berkontribusi terhadap lingkungan dan komunitasnya.

Jangan anggap remeh perasaan galau yang dirasakan terus menerus. Bisa jadi itu sebuah pertanda bahwa anda membutuhkan bantuan profesional. Segera konsultasikan dengan dokter spesialis kedokteran jiwa.

         Informasi lebih lanjut hubungi Customer Relation di 0812 3452 3446 atau datang langsung ke RS Manyar Medical Centre di Jl Raya Manyar No 9, Surabaya.

 

Ingat, Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental!

Artikel Terkait